السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ و عليكم السلام والرحمة الله وبركاته
Tampilkan postingan dengan label ~MUALLAF~. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ~MUALLAF~. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Mei 2014

INDRIANA PURNAMAWATI: TERLAHIR KEMBALI DENGAN ISLAM





Akhlaknya yang bagus membuat keluarganya tertarik pada Islam.

Perempuan yang suaminya menjadi dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) Surabaya ini mengenakan jilbab dan sangat ramah. Ibadah shalatnya pun bisa dibilang rajin.

Tak banyak yang tahu, perempuan berusia 50 tahun bernama Indriana Purnamawati itu lahir dan dibesarkan bukan oleh keluarga Islam. Masa kecilnya dipenuhi dengan kehidupan keluarga yang taat pada ajaran Katolik.

Namun, rasa ingin tahunya yang besar merintis jalannya untuk mengenal Islam, hingga akhirnya muncul keinginan kuat untuk menjadi Muslimah.

Perempuan yang akrab disapa Nina ini terlahir sebagai Katolik. Sejak TK hingga SMP, ia selalu mengenyam pendidikan di sekolah Katolik.

Ketika duduk di bangku SMA, ia bersekolah di SMA negeri. Saat itu, matanya terbuka, ternyata ia hidup menjadi minoritas di antara banyak kawannya yang Muslim.

Saat menghadapi syok karena melihat kebiasaan baru agama lain, ia banyak penasaran. Misalnya, ia melihat ada temannya yang membawa mukena ke sekolah dan mengetahui apa saja ibadah wajib yang harus dilakukan umat Islam. “Saya dulu melihat, kok Islam itu ribet banget, ya,” ujarnya kepada Republika, pekan lalu.

Ia juga dekat dengan lelaki Muslim, yang kemudian menjadi kekasihnya kala itu. Pria ini selalu menggiringnya agar ia masuk menjadi Muslimah. “Saya tidak suka dengan cara seperti ini sehingga saat itu saya jadi benci setengah mati dengan Islam,” katanya.

Namun, saat duduk di kelas dua SMA, ia justru mulai tertarik dengan Islam. Rasa penasarannya yang sangat tinggi membuatnya banyak belajar hal baru dan informasi-informasi mengenai Islam. “Bahkan, saya iseng-iseng ikut pelajaran agama Islam juga,” ujarnya.

Saat itu, ketika datang waktu ulangan pelajaran agama Islam, ia harus mencontek juga belajar menghafal mati-matian agar tidak terlalu jelek nilainya.

Ketika masa kuliah, ia semakin dekat dengan Islam. Teman kos sekamarnya Muslim yang taat dan banyak mempunyai buku agama yang menarik perhatiannya. “Awalnya ngumpet-ngumpet baca buku agama teman saya ini dan lama-lama tertarik,” kata Nina.

Banyak pengetahuan baru yang didapatnya ketika mempelajari Islam. Salah satunya adalah kenyataan Allah itu bersifat esa dan tidak diperanakkan.

Setelah banyak membaca buku agama Islam, rasa ingin tahunya semakin besar. Ia akhirnya berani membuka Alquran yang di dalamnya ada terjemahannya. “Melihat bahasanya, saya nggak ngerti sama sekali,” ujarnya.

Namun, ia tidak menyerah. Ia terus membuka Alquran dan membaca buku-buku agama. Melalui proses yang panjang,

Nina akhirnya merasakan mendapatkan hidayah. Hingga ia minta diajarkan shalat oleh teman. Pada 1983, ia akhirnya mantap mengucapkan syahadat di depan teman-teman juga ustaz yang membimbingnya.

Awalnya, Nina menyembunyikan identitas barunya sebagai Muslimah apalagi di depan keluarga. Karena, ia tahu keluarganya adalah penganut Katolik yang taat.

Suatu hari, keluarganya akhirnya mengetahui juga. Saat itu, orang tuanya melihat ia sedang shalat. Ia pun kemudian dimarahi habis-habisan oleh bapaknya. “Saat dimarahi itu, saya ya diam saja terus,” katanya.

Ia mencari pembelaan kepada kakaknya yang telah menjadi mualaf juga karena menikah dengan orang Islam. Namun, ia kecewa karena kakaknya sama sekali tidak tahu tentang esensi Islam dan tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan.

Kakaknya ini hanya ikut-ikutan shalat seperti pasangannya, namun tidak mengetahui ilmu-ilmu agama Islam. “Berbeda dengan saya. Kalau saya mempelajari dulu, tahu ilmunya, baru belajar shalat dan memutuskan masuk Islam,” ujar Nina.

Nina merasa jalan Islam yang ia pilih ini sudah sangat tepat dan ia mantap karena ini muncul dari keinginan sendiri.

Sebelumnya, ia banyak mendulang informasi dan ilmu dari buku-buku dan bertanya kepada orang-orang yang bisa memberikan jawaban memuaskan untuknya. Jadi, ia masuk Islam benar-benar karena kemauan sendiri, tanpa paksaan dari pihak manapun dan bukan sekadar ikut-ikutan.

Setelah masuk Islam, ia merasa banyak perubahan besar yang terjadi terhadapnya. Jika mau melakukan sesuatu, ia akan banyak berpikir terlebih dahulu, akibatnya apa nanti dan dihubungkan dulu dengan hukum Islam.

Selain itu, ia selalu mengambil hikmah dalam setiap apa yang telah dilakukannya. “Saya selalu merasa disayang Allah,” kata Nina.

Ia merasa seperti terlahir kembali setelah masuk Islam tersebut. Nina merasa menjadi orang baru dengan pandangan hidup baru yang lebih nyaman baginya. Meski begitu, ia tetap menghormati orang-orang di sekelilingnya yang mempunyai pandangan sendiri-sendiri.

Ketika lama tak bertemu kawan lama, banyak yang kaget melihat penampilannya sekarang apalagi sekarang ia mengenakan jilbab. “Tapi, alhamdulillah hubungan kami tetap baik, hubungan sosial tetap terjaga, apa pun kepercayaan yang kamu anut,” ujarnya.

Meski mendapatkan kecaman dan dihadapkan pada amarah bapaknya karena pindah agama, Nina tetap mantap memilih Islam. Ketika ia dimarahi, ia selalu diam, tak membantah ataupun balas membentak orang tuanya.

Perilakunya pun tidak berubah, ia tetaplah menjadi Nina yang baik hati, cerdas, dan manis. Bahkan, semakin hari akhlaknya kian bagus. Inilah yang membuat keluarganya yang lain tertarik juga pada Islam.

“Alhamdulillah, akhirnya semua keluarga saya jadi Islam. Bahkan, ibu saya memutuskan menjadi mualaf dan langsung ngebut belajar shalat dan agama di sisa usianya. Ia meninggal saat sedang ingin shalat, sudah mengenakan mukena, namun tiba-tiba ambruk dan meregang nyawa,” kata Nina.(rpk-ol)
»»  yang lain bede'...

MARIANA SARAGIH: RASANYA SAYA SEPERTI DILAHIRKAN KEMBALI






Mariana Saragih, atau lengkapnya Mariana Saroha Saragih, lahir pada 2 Januari 1985 di Tanjung Balai Karimun, Riau. Meski ber­asal dari keluarga Kristen Protestan yang taat, sedari kecil gadis keturunan Batak campuran Cina ini telah mempela­jari Islam. Ia merasa, takdir telah mem­bimbingnya mengenal dan dekat dengan Islam. Maka tak mengherankan jika kemudian ia memutuskan pindah ke­yakinan ke dalam agama Islam.

Ada se­macam perasaan nyaman yang selalu mengisi relung qalbunya ketika melihat orang berbondong-bondong menuju masjid untuk menunaikan shalat fardhu. Wajah mereka tampak begitu bersih, lang­kah mereka mantap tanpa keragu­an. Sepertinya mereka menuju suatu tem­pat yang paling indah.

Ami, demikian panggilan akrabnya sekarang, kini berdomisili di Pekanbaru. Keluarganya memang berasal dari Medan, tapi ia sempat menghabiskan masa kecilnya di Banda Aceh, mengikuti ayahnya yang bertugas di sana. Di Kota Serambi Makkah inilah ia mengenal dan dekat dengan Islam sejak dini.
“Ami dari kecil sudah belajar agama Islam melalui teman-teman, mereka sa­ngat menyenangkan. Orangtua dulu ting­gal di Aceh, jadi sedikit-banyaknya Ami sudah tahu tentang Islam,” tuturnya mengawali kisahnya. Maka jadilah anak perempuan bungsu dari delapan bersau­dara ini dekat dengan Islam.
Maklum, Aceh, yang masyarakatnya homogen penganut Islam, menerapkan syari’at Islam yang ketat, dan juga mem­berikan pelajaran Islam yang mendalam di sekolah-sekolah. Apalagi Ami juga ber­sekolah di sekolah dasar negeri di Aceh, bukan di sekolah yang diperun­tuk­kan bagi siswa beragama Kristen.

Ditambah pula, usai menamatkan SD dan SMP, SDN 24 Banda Aceh dan SMPN 6 Pekanbaru, ia melanjutkan pendidikan ke sekolah Islam, yakni SMK Nurul Falah Pekanbaru. Dari sekolah dan pertemanan dengan siswa Islam inilah ia merasakan jiwanya kian dekat dengan Islam.
Ketika ditanya apa yang menyebab­kannya memilih sekolah Islam dan apa­kah tidak ditanya macam-macam, Ami malah tersentak dengan pertanyaan itu. ”Karena ketertarikan kepada Islam, saya masuk ke sekolah Islam. Malah banyak dorongan yang saya dapatkan, tidak ada yang memaksa, semuanya menerima layaknya sahabat,” katanya.

“Islam memberikan ketenangan bathin, Islam membuat hidup saya jauh lebih tenteram dibandingkan ketika saya memeluk agama sebelumnya. Ibadah yang dilakukan di dalam Islam membuat pemeluknya begitu dekat dengan Pen­cipta­nya. Apalagi setelah membaca ba­caan shalat, ketika membaca artinya terasa betapa amat sayangnya Tuhan kepada setiap hamba-Nya dan kita pun merasa berkomunikasi langsung dengan Tuhan. Itu sangat menenteramkan saya,” demikian jawaban gadis ini man­tap ketika ditanya kenapa ia beralih agama.

”Ketika masih memeluk agama yang lama, sering timbul pertanyaan dalam bathin saya tentang ajaran ketuhanan­nya, yang membuat hati saya selalu gelisah. Terutama doktrin tentang Tuhan turun ke bumi. Sedang dalam Islam, Tuhan tidak perlu turun ke bumi. Wahyu-wahyu Tuhan disampaikan kepada Rasulullah melalui Malaikat Jibril. Kon­sep ketuhanan inilah terutama yang mem­buat saya meyakini ajaran Islam.”
Tepatnya Ami mengucapkan kali­mah syahadat pada tahun 2006, ketika usianya beranjak 21 tahun, persis men­jelang bulan Ramadhan waktu itu.
Ia sudah mempunyai persiapan yang mantap ketika akan memeluk agama barunya. Sehingga ketika kalimah sya­hadat dilafalkannya, tak ada keraguan mengenai apa yang harus dilakukannya, sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT.

Sudah lama ia membeli peralatan shalat, sesuatu yang membuatnya ber­degup antara harap dan rindu tatkala telah mencoba mukena yang dibelinya. ”Rasanya saya seperti dilahirkan kem­bali, Sang Pencipta terasa begitu dekat dengan saya, menyambut saya dengan suka cita karena kembalinya saya ke­pada fithrah, memeluk agama yang suci dan sempurna,” ujarnya meyakinkan.
Ami pun melaksanakan puasa Ramadhan dengan sungguh-sungguh, ikut shalat Tarawih. Itu pengalaman yang menakjubkan, menurutnya, apalagi ketika akan berbuka. ”Di sana kita me­ngerti arti pemberian Allah berupa rizqi. Kita akan mensyukuri pemberian Allah, sekecil apa pun, karena dilatih kosong ketika siang. Sungguh luar biasa.”
Reaksi Keras dari Keluarga

Keislaman Ami mendapat reaksi ke­ras dari keluarga besarnya, terutama dari abang-abangnya. Ia dimarahi habis-habisan.
Namun wanita yang sudah sangat yakin bahwa Islam-lah agama yang benar ini tak goyah dengan keimanan­nya. Tak sedikit pun ada rasa gentar mempertahankan keislamannya. Bah­kan kalaupun harus hidup sendiri di luar keluarga besarnya, akan ia jalani dengan ikhlas.
Mungkin karena itulah, akhirnya, se­iring perjalanan waktu, keluarganya bisa menerima kenyataan bahwa dalam keluarga mereka ada perbedaan agama. Tapi yang jelas, semua itu tentu merupa­kan pertolongan Allah SWT, yang harus disyukurinya.

“Ya, sekarang abang-abang saya atau keluarga besar saya sudah bisa menerima saya,” ucapnya penuh syukur. Bahkan dalam keluarga Ami kemudian tak hanya dirinya yang menganut Islam, dua kakaknya yang lain juga menerima hidayah Allah.
Kedua kakaknya itu kini tinggal di Aceh, sedangkan Ami tetap di Pekan­baru.
Ya, seiring perjalanan waktu, me­reka tak lagi berkumpul. Saudara-sau­daranya, termasuk Ami, memilih meran­tau. Apalagi setelah kedua orangtua Ami meninggal dunia.
Kini gadis muda yang penuh sema­ngat ini kos di Pekanbaru, merintis jalan hidupnya menuju masa depan yang ia yakini penuh berkah dan pertolongan Allah SWT.
Hanya Allah jua sebaik-baik penolong.
(sm/bbs/Majalah Alkisah)
»»  yang lain bede'...

CARISSA D. PENULIS CANTIK ASAL AMERIKA INI MASUK ISSLAM SETELAH MENCOBA KENAKAN JILBAB

 




Kurang lebih setahun, Carissa D. Lamkahouan mempelajari agama Islam meliputi prinsip-prinsip dan karakteristiknya. “Saya sebagai seorang perempuan sangat tertarik terhadap isu-isu yang berkaitan dengan perempuan. Dari ketertarikan itulah saya mulai mengenal jilbab yang menjadi identitas seorang muslimah,” tutur gadis asal Amerika Serikat ini.

Entah ada angin apa yang menembus ke dalam jiwanya, sehingga Carissa begitu terpesona dan tertarik terhadap perempuan yang mengenakan jilbab. Dan alhasil ia pun tertarik dengan agama islam. Ia sering melakukan Study Islam, rajin pergi ke toko buku, meneliti referensi Islam dalam versi bahasa Inggris, mempelajari Al-Qur’an dan hadits, serta kisah-kisah Rasulullah beserta para sahabatnya.

Suatu hari Carissa menemukan jilbab pada barisan abaya di sebuah toko. Kemudian tiba-tiba ada sebuah hasrat ingin mencoba jilbab tersebut. Saat pertamakali mengenakan jilbab, Carissa merasa ada sesuatu yang aneh menempel pada kepalanya.

“Sekilas saya menatap diri saya dari cermin. Terus terang saja diri saya ini sangat terkejut ketika melihat kain hijau yang menempel di kepala saya saat itu. Saya mengamati diri saya sebagai orang asing yang seperti terlahir kembali. Ada stereotif negatif dalam bayangan wanita berjilbab seperti digambarkan oleh media,” ungkapnya.

Tetapi, perasaan tersebut tidak berlangsung lama. Perempuan cantik ini seketika kembali ke alam rasionalnya. “Saya membeli jilbab ini hanya untuk di gunakan pada saat mengunjungi masjid saja!” tegasnya dalam hati.

Carissa memang hanya mengenakan jilbabnya pada saat mengunjungi masjid-masjid untuk mempelajari Islam lebih.

“Saat ini, saya menyadari bahwa dengan membeli jilbab pada waktu itu adalah awal dari turunnya hidayah Allah kepada saya,” tuturnya.

Bulan berganti bulan. Namun, penulis berkulit putih ini belum benar-benar memakai jilbab itu sesuai dengan apa yang telah ia rencanakan. Karena, ia tidak terlalu suka dengan warna dan model jilbab yang dibelinya. Sehingga, Carissa pun kembali ke toko buku untuk membeli jilbab dengan model dan warna yang ia sukai.

Semenjak hari itu, Carissa menyempatkan untuk memakai jilbabnya pada beberapa kesempatan. Seperti saat berkunjung ke toko makanan halal, ketika pergi ke toko buku, dan pada kesempatan-kesempatan lainnya. Sehingga sampailah pada suatu malam, Carissa pergi bersama suaminya dengan mengenakan jilbab. Dan dari sini lah terjadi perubahan yang besar.

“Saya merasa sangat aman dan nyaman saat mengenakan jilbab. Saya seolah terlindungi dari pandangan-pandangan laki-laki yang nakal dan suka menggoda,” jelasnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, Carissa mulai terbiasa memakai jilbab dan semakin dalam mempelajari agama Islam. Hingga akhirnya, Carissa D. Lamkahouan mengucapkan dua kalimah syahadat.

Kini Carissa mengenakan jilbab dengan alasan ibadah kepada Allah SWT. Ia merasa memiliki martabat dan kemuliaan yang luar biasa sangat mengenakan jilbab. Ia tak takut lagi di goda oleh laki-laki dan merasa terlindung dari sengatan sinar matahari, karena jilbab adalah mahkota terindahnya. [islampos/onislam]
»»  yang lain bede'...

EVELYN COBBOLD. WANITA MUALLAF INGGRIS PERTAMA YANG PERGI HAJI






HIDUP sebagai kaum bangsawan dengan gelimang harta, kehormatan, dan keterkenalan sering kali diimpikan banyak orang. Betapa tidak, hidup sebagai bangsawan laksana hidup di negeri dongeng: dengan sekali perintah segala keinginan bisa terwujud. Begitu pula dengan yang dialami oleh Lady Evelyn Cobbold.

Sesuai dengan gelar Lady yang melekat pada namanya, Evelyn Cobbold lahir sebagai seorang anak bangsawan. Lahir dengan nama Evelyn Murray di Edinburgh pada 17 Juli 1867, Evelyn merupakan anak tertua dari bangsawan Skotlandia, Charles Adolphus Murray, Pangeran Dunmore ke-7 dan Lady Gertrude Coke, anak perempuan dari Pangeran Leicester kedua. Dengan takdir yang dijalaninya sebagai anak bangsawan,

Evelyn kecil seharusnya merasakan berbagai macam kenikmatan. Namun, Evelyn kecil dan keluarganya justru berkelana mengikuti ayahnya ke wialyah yang lebih eksotis di Afrika Timur. Sejak itu pula kehidupan Evelyn kecil banyak dikelilingi pembantu domestik dari penduduk asli Mesir dan Aljazair. Evelyn kecil banyak menghabiskan musim dingin bersama dengan pembantu tersebut dan kehidupannya pun banyak dipengaruhi oleh cara-cara Islam dan tradisi Arab.

Tentang kehidupan masa kecilnya, Evelyn menulis: “Aku menghabiskan musim dingin di Vila Moorish, di sebuah lembah di luar Aljazair. Di sanalah aku belajar bicara Arab dan yang paling aku gemari adalah saat melarikan diri dari status bangsawanku dan mengunjungi masjid bersama teman-teman Aljazairku. Tanpa sadar, aku merasa menjadi seorang Muslim di dalam hatiku.

“Beberapa tahun berlalu dan aku tinggal di Roma bersama beberapa teman italia dan tuan rumah menawariku apakah ingin bertemu Paus atau tidak. Tentu saja saya sangat mau. Kemudian, saat Yang Mulia Paus tiba-tiba bertanya padaky apakah aku seorang Katolik, beberapa saat lamanya aku tak menjawab untuk kemudian berkata bahwa aku seorang Muslim. “

Untuk ukuran seorang wanita bangsawan, Evelyn sedikit telat menikah. Ia menikah pada usia 24 tahun dengan John Dupuis Cobbold, seorang lelaki keturunan keluarga pembuat bir yang kaya raya di sebelah timur Inggris. Mereka bertemu di Kairo dan menikah di sana pada April 1891. Pasangan suami istri ini dikaruniai tiga orang anak yang lahir antara tahun 1893 hingga 1900.

Pada tahun 1900, Lady Evelyn melakukan perjalanan tanpa suaminya. Ia kembali ke Afrika Utara tahun 1911, pada usia 43 tahun, dan melakukan perjalanan di Mesir. Pada tahun 1912, buku tentang perjalanannya tersebut diterbitkan dengan judul Wayfarers in the Libyan Desert. Sejak saat itulah dan seterusnya, pengakuan dirinya sebagai seorang Muslim semakin meningkat. Lady Evelyn kemudian mengubah namanya menjadi Lady Zainab.

Setiap musim dingin Lady Zainab mengunjungi Mesir dan sejak tahun 1915 ia menjalin persahabatan dengan Marmaduke Pickhall, dengan seorang Inggris Muslim, yang menghasilkan salah satu penerjemahan Al-Quran ke dalam bahasa Inggris yang sangat dihargai.

Pada tahun 1920, informasi yang bersifat anekdot menyebarkan bahwa masuk Islam-nya Lady Evelyn menjadi penyebab dari kerenggangan hubungannya dengan keluarga Cobbold. Akhirnya, pada tahun 1922 Evelyn dan suaminya resmi bercerai. Evelyn memperoleh harta gono-gini yang sangat banyak, termasuk hutan berisi rusa di Glencarron. Harta tersebut menjadikan dirinya sebagai wanita terkaya di wilayahnya. Setelah kematian suaminya pada tahun 1929, Evelyn mulai serius untuk melakukan perjalanan haji ke Mekkah.

Keseriusannya pergi berhaji diwujudkan dengan mengajukan permohonan ke Hafiz Waba, Menteri Arab Saudi di London, yang kemudian menuliskan surat permohonan resmi kepada Raja Abdul Aziz di Riyadh. Lama permohonan tersebut dibalas. Karena bukan tipikal Evelyn untuk menunggu, ia kemudian mengirimkan surat perkenalan ke Harry St. John (Abdullah( Philby di Jeddah. Philby sendiri telah menjadi Muslim sejak tahun 1930. Sambil menunggu izin dari Raja, Philby-lah yang mengatur perjalanan menggunakan mobil ke Madinah.

Akhirnya, pada tahun 1933, keinginan evelyn untuk menunaikan ibadah haji terwujud setelah Raja Abdul Aziz mengabulkan permohonannya.

Demikianlah kisah Lady Evelyn Cobbold, seorang wanita bangsawan Inggris pertama yang menunaikan haji ke Mekkah. Bahkan, dapat dikatakan bahwa Lady Evelyn-lah wanita asli kelahiran Inggris pertama yang melakukan perjalanan haji. Kisah perjalanan haji Evelyn dituliskan dalam buku yang berjudul Pilgrimage to Mecca (Berhaji ke Mekka).

Dalam sejarahnya, tidak banyak fakta yang ditemukan bahwa Evelyn secara rutin melaksanakan ibadah shalat. Namun, diyakini bahwa ia telah mendeklarasikan syahadat dan berhaji menjadi puncak pembuktiannya sebagai Muslim. Lady Evelyn Zainab meninggal 30 tahun setelah berhaji, tepatnya pada Januari 1963, salah satu bulan terdingin dalam sejarah Inggris. Evelyn dimakamkan menurut syariat Islam di kawasan Glencarron. [islampos]
»»  yang lain bede'...

SUBHANALLAH! IKUTI JEJAK AYAH, PUTERA VAN DORN MASUK ISLAM!





PUTRA Arnoud Van Doorn, seorang pembuat film antiIslam Fitna yang masuk Islam tahun lalu, dikabarkan telah mendapat hidayah mengikuti jejak Sang Ayah masuk agama Islam.

The Khaleej Times melaporkan pada hari Senin (21/4/2014) bahwa Iskandar Van Doorn telah bersyahadat bersama 37 orang lain di Dubai International Peace Convention.

“Saya melihat ayah saya menjadi lebih damai setelah masuk Islam, saat itulah saya menyadari ada sesuatu yang baik dalam agama ini dan itu membuat saya mengubah persepsi saya menjadi Muslim,” kata Iskandar.

Iskandar mengatakan bahwa setelah ayahnya masuk Islam, ia juga mulai belajar Al-Qur’an dan mendengarkan ceramah tentang Islam. Isakandar, 22, mengatakan seorang teman dekat yang seorang Muslim juga membantu untuk mengajarinya tentang agama Islam.

Arnoud Van Dorn, ayahnya, adalah seorang mantan pembantu pemimpin sayap kanan Belanda Geert Wilders. Van Dorn berpartisipasi dalam pembuatan film antiIslam ‘Fitna’ yang menghina Islam. Van Doorn kemudian mulai mendalami Islam untuk membuat film Fitna tersebut, tapi Van Dorn akhirnya terinspirasi oleh pesan Islam dan mengaku sebagai Muslim tak lama kemudian. [islampos/worldbulletin]


»»  yang lain bede'...