السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ و عليكم السلام والرحمة الله وبركاته

Jumat, 02 Mei 2014

TAMPAK INDAH SEBELUM DIMILIKI, TAK INDAH SESUDAH DIMILIKI




Yang tinggal di gunung merindukan pantai.
Yang tinggal di pantai merindukan gunung.

Di musim kemarau merindukan musim hujan.
Di musim hujan merindukan musim kemarau.

Yang berambut hitam mengagumi yang pirang.
Yang berambut pirang mengagumi yang hitam.

Diam di rumah merindukan bepergian.
Setelah bepergian merindukan rumah.

Ketika masih jadi karyawan ingin jadi Entrepreneur supaya punya kebebasan waktu.
Begitu jadi Entrepreneur ingin jadi karyawan, biar tidak pusing.

Waktu tenang mencari keramaian.
Waktu ramai mencari ketenangan.

Saat masih bujangan, pengen punya suami ganteng/istri cantik.
Begitu sudah dapat suami ganteng/istri cantik, pengen yang biasa-biasa saja, bikin cemburu aja/takut selingkuh.

Punya anak satu mendambakan banyak anak.
Punya banyak anak mendambakan satu anak saja.

Kita tidak pernah bahagia sebab segala sesuatu tampak indah hanya sebelum dimiliki.
Namun setelah dimiliki tak indah lagi.

Kapankah kebahagiaan akan didapatkan? Kalau kita hanya selalu memikirkan apa yang belum ada, namun mengabaikan apa yang sudah dimiliki tanpa rasa syukur.
‘Semoga kita menjadi pribadi yang yang senantiasa bersyukur dengan berkah yang sudah kita miliki’

‘Jangan menutup mata kita, walaupun hanya dengan daun kecil’
Jangan menutupi hati kita, walaupun hanya dengan sebuah pikiran negatif.

Bila hati kita tertutup, tertutuplah semua.
Syukuri apa yang ada, karena hidup adalah anugerah bagi jiwa-jiwa yang ikhlas.(Kkh/bbs)
»»  yang lain bede'...

AMIN RAIS: INDONESIA MENJADI TARGET YAHUDI DAN NASRANI




Di Masjid AgungAl-Azhar, Kebayoran Baru Jakarta Selatan berlangsung acara PPI (Pengajian Politik Islam), dan dihadiri oleh ribuan Muslim dan Muslimah dari berbagai pelosok Jakarta, dan dari daerah. Masjid Agung Al-Azhar penuh pengunjung yang hadir mengikuti dengan seksama setiap pembicara, hari Ahad, 30/3/2014.

Acara PPI di Masjid Agung Al-Azhar itu, digagas oleh KH.Kholil Ridwan, pimpinan Pondok Pesantren Husnayain, KH. Rasyid Abdullah Syafi’i, pimpinan Pondok Pesantren Asy-Syafi’iyah, dan Syuhada Bahri, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah (DDII). Acara yang berlangsung di Masjid Agung Al-Azhar, hari Ahad itu, dihadiri mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Prof. Jimly As-Shidiqi, mantan Ketua MPR. Prof. Amin Rais, Wakil Ketua Umum PPP Imron Pangkapi, Fuad Bawazir, dan sejumlah tokoh lainnya.

Amin Rais, mengingatkan tentang ‘Musim Semi Arab’ (Arab Spring), yang membawa angin sepoi-sepoi perubahan yang memberikan optimisme bagi masa depan Dunia Islam, sekarang berubah menjadi ‘Musim Dingin’ (Winter) yang sangat dingin, gelap dan panjang, dan menghancurkan negara-negara Arab, seperti yang terjadi Mesir, Yaman, dan Suriah, tuturnya. Menurut Amin, semua kekacauan yang terjadi di negara-negara Arab, tidak terlepas dari tangan Israel dan Amerika (Yahudi dan Nasrani), tambahnya.

Selanjutnya, Amin Rais bercerita pernah bertemu dengan rekannya dari Malaysia, dan bertanya kepada Amin, apakah Indonesia yang merupakan ‘the bigges Muslim countries’, nantinya akan menjadi target Yahudi dan Nasrani? Amin mengatakan, bahwa Indonesia sangat mungkin akan menjadi target Yahudi dan Nasrani, tegasnya.

Indonesia sekarang dalam kondisi terpuruk, dan assetnya dikuasai oleh asing, dan bangsa Indonesia tidak memiliki apa-apa, seperti tambang emas Free Port, yang dikuasai oleh perusahaan Mc.Moran, dan Indonesia hanyalah mendapat jatah 1 persen, dari penjualan tambang emas yang merupakan terbesar di seluruh dunia ini. Semua asset sumber daya alam, sekarang sudah menjadi milik asing, dan rakyat Indonesia tidak dapat menikmati lagi.

Menurut Amin, perjuangan yang harus dilkakukan kaum Muslimin Indonesia, bagaimana mendapatkan keadilan. Keadilan dibidang politik, ekonomi, dan sosial yang harus terus diperjuangkannya. Menciptakan kembali keadilan disegala bidang itu, harus dicapai dengan kekuatan dan persatuan. Inilah yang harus menjadi prioritas perjuangan masa depan.

Hal senada disampaikan oleh Wakil Ketua PPP, Imran Pangkapi, yaitu perlunya persatuan dan saling membangun ukhuwah. Dengan persatuan dan ukhuwah, maka di Bangka-Belitung, Ahok tidak pernah bisa berkuasa. Seperti, saat Ahok ingin mencalonkan menjadi gubernur Propinsi Bangka-Belitung, gagal. Jadi Ahok tidak pernah berkuasa secara efektif, selama menjadi bupati di Belitung, dan hanya lima belas bulan, tukasnya.

Sementara itu, Prof.Jimmy Asy-Siddiqi, mengingatkan agar kaum Muslimin meningkatkan fungsi masjid. Selama ini masjid hanyalah menjadi tempat ibadah. Seharusnya, masjid menjadi tempat multi fungsi, dan harus menjadi tempat pembinaan kaum Mislimin. (voa-islam.com)
»»  yang lain bede'...

MARIANA SARAGIH: RASANYA SAYA SEPERTI DILAHIRKAN KEMBALI






Mariana Saragih, atau lengkapnya Mariana Saroha Saragih, lahir pada 2 Januari 1985 di Tanjung Balai Karimun, Riau. Meski ber­asal dari keluarga Kristen Protestan yang taat, sedari kecil gadis keturunan Batak campuran Cina ini telah mempela­jari Islam. Ia merasa, takdir telah mem­bimbingnya mengenal dan dekat dengan Islam. Maka tak mengherankan jika kemudian ia memutuskan pindah ke­yakinan ke dalam agama Islam.

Ada se­macam perasaan nyaman yang selalu mengisi relung qalbunya ketika melihat orang berbondong-bondong menuju masjid untuk menunaikan shalat fardhu. Wajah mereka tampak begitu bersih, lang­kah mereka mantap tanpa keragu­an. Sepertinya mereka menuju suatu tem­pat yang paling indah.

Ami, demikian panggilan akrabnya sekarang, kini berdomisili di Pekanbaru. Keluarganya memang berasal dari Medan, tapi ia sempat menghabiskan masa kecilnya di Banda Aceh, mengikuti ayahnya yang bertugas di sana. Di Kota Serambi Makkah inilah ia mengenal dan dekat dengan Islam sejak dini.
“Ami dari kecil sudah belajar agama Islam melalui teman-teman, mereka sa­ngat menyenangkan. Orangtua dulu ting­gal di Aceh, jadi sedikit-banyaknya Ami sudah tahu tentang Islam,” tuturnya mengawali kisahnya. Maka jadilah anak perempuan bungsu dari delapan bersau­dara ini dekat dengan Islam.
Maklum, Aceh, yang masyarakatnya homogen penganut Islam, menerapkan syari’at Islam yang ketat, dan juga mem­berikan pelajaran Islam yang mendalam di sekolah-sekolah. Apalagi Ami juga ber­sekolah di sekolah dasar negeri di Aceh, bukan di sekolah yang diperun­tuk­kan bagi siswa beragama Kristen.

Ditambah pula, usai menamatkan SD dan SMP, SDN 24 Banda Aceh dan SMPN 6 Pekanbaru, ia melanjutkan pendidikan ke sekolah Islam, yakni SMK Nurul Falah Pekanbaru. Dari sekolah dan pertemanan dengan siswa Islam inilah ia merasakan jiwanya kian dekat dengan Islam.
Ketika ditanya apa yang menyebab­kannya memilih sekolah Islam dan apa­kah tidak ditanya macam-macam, Ami malah tersentak dengan pertanyaan itu. ”Karena ketertarikan kepada Islam, saya masuk ke sekolah Islam. Malah banyak dorongan yang saya dapatkan, tidak ada yang memaksa, semuanya menerima layaknya sahabat,” katanya.

“Islam memberikan ketenangan bathin, Islam membuat hidup saya jauh lebih tenteram dibandingkan ketika saya memeluk agama sebelumnya. Ibadah yang dilakukan di dalam Islam membuat pemeluknya begitu dekat dengan Pen­cipta­nya. Apalagi setelah membaca ba­caan shalat, ketika membaca artinya terasa betapa amat sayangnya Tuhan kepada setiap hamba-Nya dan kita pun merasa berkomunikasi langsung dengan Tuhan. Itu sangat menenteramkan saya,” demikian jawaban gadis ini man­tap ketika ditanya kenapa ia beralih agama.

”Ketika masih memeluk agama yang lama, sering timbul pertanyaan dalam bathin saya tentang ajaran ketuhanan­nya, yang membuat hati saya selalu gelisah. Terutama doktrin tentang Tuhan turun ke bumi. Sedang dalam Islam, Tuhan tidak perlu turun ke bumi. Wahyu-wahyu Tuhan disampaikan kepada Rasulullah melalui Malaikat Jibril. Kon­sep ketuhanan inilah terutama yang mem­buat saya meyakini ajaran Islam.”
Tepatnya Ami mengucapkan kali­mah syahadat pada tahun 2006, ketika usianya beranjak 21 tahun, persis men­jelang bulan Ramadhan waktu itu.
Ia sudah mempunyai persiapan yang mantap ketika akan memeluk agama barunya. Sehingga ketika kalimah sya­hadat dilafalkannya, tak ada keraguan mengenai apa yang harus dilakukannya, sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT.

Sudah lama ia membeli peralatan shalat, sesuatu yang membuatnya ber­degup antara harap dan rindu tatkala telah mencoba mukena yang dibelinya. ”Rasanya saya seperti dilahirkan kem­bali, Sang Pencipta terasa begitu dekat dengan saya, menyambut saya dengan suka cita karena kembalinya saya ke­pada fithrah, memeluk agama yang suci dan sempurna,” ujarnya meyakinkan.
Ami pun melaksanakan puasa Ramadhan dengan sungguh-sungguh, ikut shalat Tarawih. Itu pengalaman yang menakjubkan, menurutnya, apalagi ketika akan berbuka. ”Di sana kita me­ngerti arti pemberian Allah berupa rizqi. Kita akan mensyukuri pemberian Allah, sekecil apa pun, karena dilatih kosong ketika siang. Sungguh luar biasa.”
Reaksi Keras dari Keluarga

Keislaman Ami mendapat reaksi ke­ras dari keluarga besarnya, terutama dari abang-abangnya. Ia dimarahi habis-habisan.
Namun wanita yang sudah sangat yakin bahwa Islam-lah agama yang benar ini tak goyah dengan keimanan­nya. Tak sedikit pun ada rasa gentar mempertahankan keislamannya. Bah­kan kalaupun harus hidup sendiri di luar keluarga besarnya, akan ia jalani dengan ikhlas.
Mungkin karena itulah, akhirnya, se­iring perjalanan waktu, keluarganya bisa menerima kenyataan bahwa dalam keluarga mereka ada perbedaan agama. Tapi yang jelas, semua itu tentu merupa­kan pertolongan Allah SWT, yang harus disyukurinya.

“Ya, sekarang abang-abang saya atau keluarga besar saya sudah bisa menerima saya,” ucapnya penuh syukur. Bahkan dalam keluarga Ami kemudian tak hanya dirinya yang menganut Islam, dua kakaknya yang lain juga menerima hidayah Allah.
Kedua kakaknya itu kini tinggal di Aceh, sedangkan Ami tetap di Pekan­baru.
Ya, seiring perjalanan waktu, me­reka tak lagi berkumpul. Saudara-sau­daranya, termasuk Ami, memilih meran­tau. Apalagi setelah kedua orangtua Ami meninggal dunia.
Kini gadis muda yang penuh sema­ngat ini kos di Pekanbaru, merintis jalan hidupnya menuju masa depan yang ia yakini penuh berkah dan pertolongan Allah SWT.
Hanya Allah jua sebaik-baik penolong.
(sm/bbs/Majalah Alkisah)
»»  yang lain bede'...

DR. KEITH L. MOORE MSc, PhD, FIAC, FSRM:INI TIDAK MUNGKIN! MUHAMMAD PASTI MENGGUNAKAN MIKROSKOP...






Ini Tidak Mungkin! Muhammad Pasti Menggunakan Mikroskop

DR. KEITH L. MOORE MSc, PhD, FIAC, FSRM adalah Presiden AACA (American Association of Clinical Anatomi ) antara tahun 1989 dan 1991. Ia menjadi terkenal karena literaturnya tentang mata pelajaran Anatomi dan Embriologi dengan puluhan kedudukan dan gelar kehormatan dalam bidang sains.

Dia menulis bersama profesor Arthur F. Dalley II, Clinically Oriented Anatomy, yang merupakan literatur berbahasa Inggris paling populer dan menjadi buku kedokteran pegangan di seluruh dunia. Buku ini juga digunakan oleh para ilmuwan, dokter, fisioterapi dan siswa seluruh dunia.

Pada suatu waktu, ada sekelompok mahasiswa yang menunujukkan referensi al-Qur’an tentang ‘Penciptaan Manusia’ kepada Profesor Keith L Moore, lalu sang Profesor melihatnya dan berkata :

“Tidak mungkin ayat ini ditulis pada tahun 7 Masehi, karena apa yang terkandung di dalam ayat tersebut adalah fakta ilmiah yang baru diketahui oleh ilmu pengetahuan modern! Ini tidak mungkin, Muhammad pasti menggunakan mikroskop!”

Para Mahasiswa tersebut lalu berkata, “Prof, bukankah saat itu Mikroskop juga belum ada?”

“Iya, iya saya tau. Saya hanya bercanda, tidak mungkin Muhammad yang mengarang ayat seperti ini,” jawab sang profesor.

***
“Kemudian Kami menjadikan air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan alaqoh (sesuatu yang melekat), lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami menjadikannya mahluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah Pencipta yang paling baik” [QS. Al Mu'minuun: 13-14]

Jika di cermati lebih dalam, sebenarnya ‘alaqoh’ dalam pengertian Etimologis yang biasa di terjemahkan dengan ‘segumpal darah’ juga bermakna ‘penghisap darah’, yaitu lintah.

Padahal tidak ada pengumpamaan yang lebih tepat ketika Embrio berada pada tahap itu, yaitu 7-24 hari, selain seumpama lintah yang melekat dan menggelantung di kulit.

Embrio itu seperti menghisap darah dari dinding Uterus, karena memang demikianlah yang sesungguhnya terjadi, Embrio itu makan melalui aliran darah. Itu persis seperti lintah yang menghisap darah. Janin juga begitu, sumber makanannya adalah dari sari makanan yang terdapat dalam darah sang ibu.

Ajaibnya, Embrio Janin dalam tahap itu jika di perbesar dengan mikroskop bentuknya benar-benar seperti lintah. Dan hal itu tidak mungkin jika Muhammad sudah memiliki pengetahuan yang begitu dahsyat tentang bentuk janin yang menyerupai lintah lalu menulisnya dalam sebuah buku.

Padahal pada masa itu belum di temukan mikroskop dan lensa. Jelas itu adalah pengetahuan dari Tuhan, itu wahyu dari Allah SWT, yang Maha Mengetahui segala Sesuatu.

Ayat tersebutlah yang membuat sang profesor akhirnya memeluk agama Islam dan merevisi beberapa kajian ilmiahnya karena Al-Quran ternyata telah menjawab beberapa bagian yang selama ini membuat sang profesor gusar. Ia merasa materi yang ditelitinya selama ini terasa belum lengkap atau ada tahapan dari perkembangan Embrio yang kurang.

***
Artikel Biografi Dr. Keith L. Moore >> http://goo.gl/OHjQW
 
(Pizaro/Islampos/Zilzal/File Islam)
»»  yang lain bede'...

CARISSA D. PENULIS CANTIK ASAL AMERIKA INI MASUK ISSLAM SETELAH MENCOBA KENAKAN JILBAB

 




Kurang lebih setahun, Carissa D. Lamkahouan mempelajari agama Islam meliputi prinsip-prinsip dan karakteristiknya. “Saya sebagai seorang perempuan sangat tertarik terhadap isu-isu yang berkaitan dengan perempuan. Dari ketertarikan itulah saya mulai mengenal jilbab yang menjadi identitas seorang muslimah,” tutur gadis asal Amerika Serikat ini.

Entah ada angin apa yang menembus ke dalam jiwanya, sehingga Carissa begitu terpesona dan tertarik terhadap perempuan yang mengenakan jilbab. Dan alhasil ia pun tertarik dengan agama islam. Ia sering melakukan Study Islam, rajin pergi ke toko buku, meneliti referensi Islam dalam versi bahasa Inggris, mempelajari Al-Qur’an dan hadits, serta kisah-kisah Rasulullah beserta para sahabatnya.

Suatu hari Carissa menemukan jilbab pada barisan abaya di sebuah toko. Kemudian tiba-tiba ada sebuah hasrat ingin mencoba jilbab tersebut. Saat pertamakali mengenakan jilbab, Carissa merasa ada sesuatu yang aneh menempel pada kepalanya.

“Sekilas saya menatap diri saya dari cermin. Terus terang saja diri saya ini sangat terkejut ketika melihat kain hijau yang menempel di kepala saya saat itu. Saya mengamati diri saya sebagai orang asing yang seperti terlahir kembali. Ada stereotif negatif dalam bayangan wanita berjilbab seperti digambarkan oleh media,” ungkapnya.

Tetapi, perasaan tersebut tidak berlangsung lama. Perempuan cantik ini seketika kembali ke alam rasionalnya. “Saya membeli jilbab ini hanya untuk di gunakan pada saat mengunjungi masjid saja!” tegasnya dalam hati.

Carissa memang hanya mengenakan jilbabnya pada saat mengunjungi masjid-masjid untuk mempelajari Islam lebih.

“Saat ini, saya menyadari bahwa dengan membeli jilbab pada waktu itu adalah awal dari turunnya hidayah Allah kepada saya,” tuturnya.

Bulan berganti bulan. Namun, penulis berkulit putih ini belum benar-benar memakai jilbab itu sesuai dengan apa yang telah ia rencanakan. Karena, ia tidak terlalu suka dengan warna dan model jilbab yang dibelinya. Sehingga, Carissa pun kembali ke toko buku untuk membeli jilbab dengan model dan warna yang ia sukai.

Semenjak hari itu, Carissa menyempatkan untuk memakai jilbabnya pada beberapa kesempatan. Seperti saat berkunjung ke toko makanan halal, ketika pergi ke toko buku, dan pada kesempatan-kesempatan lainnya. Sehingga sampailah pada suatu malam, Carissa pergi bersama suaminya dengan mengenakan jilbab. Dan dari sini lah terjadi perubahan yang besar.

“Saya merasa sangat aman dan nyaman saat mengenakan jilbab. Saya seolah terlindungi dari pandangan-pandangan laki-laki yang nakal dan suka menggoda,” jelasnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, Carissa mulai terbiasa memakai jilbab dan semakin dalam mempelajari agama Islam. Hingga akhirnya, Carissa D. Lamkahouan mengucapkan dua kalimah syahadat.

Kini Carissa mengenakan jilbab dengan alasan ibadah kepada Allah SWT. Ia merasa memiliki martabat dan kemuliaan yang luar biasa sangat mengenakan jilbab. Ia tak takut lagi di goda oleh laki-laki dan merasa terlindung dari sengatan sinar matahari, karena jilbab adalah mahkota terindahnya. [islampos/onislam]
»»  yang lain bede'...

EVELYN COBBOLD. WANITA MUALLAF INGGRIS PERTAMA YANG PERGI HAJI






HIDUP sebagai kaum bangsawan dengan gelimang harta, kehormatan, dan keterkenalan sering kali diimpikan banyak orang. Betapa tidak, hidup sebagai bangsawan laksana hidup di negeri dongeng: dengan sekali perintah segala keinginan bisa terwujud. Begitu pula dengan yang dialami oleh Lady Evelyn Cobbold.

Sesuai dengan gelar Lady yang melekat pada namanya, Evelyn Cobbold lahir sebagai seorang anak bangsawan. Lahir dengan nama Evelyn Murray di Edinburgh pada 17 Juli 1867, Evelyn merupakan anak tertua dari bangsawan Skotlandia, Charles Adolphus Murray, Pangeran Dunmore ke-7 dan Lady Gertrude Coke, anak perempuan dari Pangeran Leicester kedua. Dengan takdir yang dijalaninya sebagai anak bangsawan,

Evelyn kecil seharusnya merasakan berbagai macam kenikmatan. Namun, Evelyn kecil dan keluarganya justru berkelana mengikuti ayahnya ke wialyah yang lebih eksotis di Afrika Timur. Sejak itu pula kehidupan Evelyn kecil banyak dikelilingi pembantu domestik dari penduduk asli Mesir dan Aljazair. Evelyn kecil banyak menghabiskan musim dingin bersama dengan pembantu tersebut dan kehidupannya pun banyak dipengaruhi oleh cara-cara Islam dan tradisi Arab.

Tentang kehidupan masa kecilnya, Evelyn menulis: “Aku menghabiskan musim dingin di Vila Moorish, di sebuah lembah di luar Aljazair. Di sanalah aku belajar bicara Arab dan yang paling aku gemari adalah saat melarikan diri dari status bangsawanku dan mengunjungi masjid bersama teman-teman Aljazairku. Tanpa sadar, aku merasa menjadi seorang Muslim di dalam hatiku.

“Beberapa tahun berlalu dan aku tinggal di Roma bersama beberapa teman italia dan tuan rumah menawariku apakah ingin bertemu Paus atau tidak. Tentu saja saya sangat mau. Kemudian, saat Yang Mulia Paus tiba-tiba bertanya padaky apakah aku seorang Katolik, beberapa saat lamanya aku tak menjawab untuk kemudian berkata bahwa aku seorang Muslim. “

Untuk ukuran seorang wanita bangsawan, Evelyn sedikit telat menikah. Ia menikah pada usia 24 tahun dengan John Dupuis Cobbold, seorang lelaki keturunan keluarga pembuat bir yang kaya raya di sebelah timur Inggris. Mereka bertemu di Kairo dan menikah di sana pada April 1891. Pasangan suami istri ini dikaruniai tiga orang anak yang lahir antara tahun 1893 hingga 1900.

Pada tahun 1900, Lady Evelyn melakukan perjalanan tanpa suaminya. Ia kembali ke Afrika Utara tahun 1911, pada usia 43 tahun, dan melakukan perjalanan di Mesir. Pada tahun 1912, buku tentang perjalanannya tersebut diterbitkan dengan judul Wayfarers in the Libyan Desert. Sejak saat itulah dan seterusnya, pengakuan dirinya sebagai seorang Muslim semakin meningkat. Lady Evelyn kemudian mengubah namanya menjadi Lady Zainab.

Setiap musim dingin Lady Zainab mengunjungi Mesir dan sejak tahun 1915 ia menjalin persahabatan dengan Marmaduke Pickhall, dengan seorang Inggris Muslim, yang menghasilkan salah satu penerjemahan Al-Quran ke dalam bahasa Inggris yang sangat dihargai.

Pada tahun 1920, informasi yang bersifat anekdot menyebarkan bahwa masuk Islam-nya Lady Evelyn menjadi penyebab dari kerenggangan hubungannya dengan keluarga Cobbold. Akhirnya, pada tahun 1922 Evelyn dan suaminya resmi bercerai. Evelyn memperoleh harta gono-gini yang sangat banyak, termasuk hutan berisi rusa di Glencarron. Harta tersebut menjadikan dirinya sebagai wanita terkaya di wilayahnya. Setelah kematian suaminya pada tahun 1929, Evelyn mulai serius untuk melakukan perjalanan haji ke Mekkah.

Keseriusannya pergi berhaji diwujudkan dengan mengajukan permohonan ke Hafiz Waba, Menteri Arab Saudi di London, yang kemudian menuliskan surat permohonan resmi kepada Raja Abdul Aziz di Riyadh. Lama permohonan tersebut dibalas. Karena bukan tipikal Evelyn untuk menunggu, ia kemudian mengirimkan surat perkenalan ke Harry St. John (Abdullah( Philby di Jeddah. Philby sendiri telah menjadi Muslim sejak tahun 1930. Sambil menunggu izin dari Raja, Philby-lah yang mengatur perjalanan menggunakan mobil ke Madinah.

Akhirnya, pada tahun 1933, keinginan evelyn untuk menunaikan ibadah haji terwujud setelah Raja Abdul Aziz mengabulkan permohonannya.

Demikianlah kisah Lady Evelyn Cobbold, seorang wanita bangsawan Inggris pertama yang menunaikan haji ke Mekkah. Bahkan, dapat dikatakan bahwa Lady Evelyn-lah wanita asli kelahiran Inggris pertama yang melakukan perjalanan haji. Kisah perjalanan haji Evelyn dituliskan dalam buku yang berjudul Pilgrimage to Mecca (Berhaji ke Mekka).

Dalam sejarahnya, tidak banyak fakta yang ditemukan bahwa Evelyn secara rutin melaksanakan ibadah shalat. Namun, diyakini bahwa ia telah mendeklarasikan syahadat dan berhaji menjadi puncak pembuktiannya sebagai Muslim. Lady Evelyn Zainab meninggal 30 tahun setelah berhaji, tepatnya pada Januari 1963, salah satu bulan terdingin dalam sejarah Inggris. Evelyn dimakamkan menurut syariat Islam di kawasan Glencarron. [islampos]
»»  yang lain bede'...

SUBHANALLAH! IKUTI JEJAK AYAH, PUTERA VAN DORN MASUK ISLAM!





PUTRA Arnoud Van Doorn, seorang pembuat film antiIslam Fitna yang masuk Islam tahun lalu, dikabarkan telah mendapat hidayah mengikuti jejak Sang Ayah masuk agama Islam.

The Khaleej Times melaporkan pada hari Senin (21/4/2014) bahwa Iskandar Van Doorn telah bersyahadat bersama 37 orang lain di Dubai International Peace Convention.

“Saya melihat ayah saya menjadi lebih damai setelah masuk Islam, saat itulah saya menyadari ada sesuatu yang baik dalam agama ini dan itu membuat saya mengubah persepsi saya menjadi Muslim,” kata Iskandar.

Iskandar mengatakan bahwa setelah ayahnya masuk Islam, ia juga mulai belajar Al-Qur’an dan mendengarkan ceramah tentang Islam. Isakandar, 22, mengatakan seorang teman dekat yang seorang Muslim juga membantu untuk mengajarinya tentang agama Islam.

Arnoud Van Dorn, ayahnya, adalah seorang mantan pembantu pemimpin sayap kanan Belanda Geert Wilders. Van Dorn berpartisipasi dalam pembuatan film antiIslam ‘Fitna’ yang menghina Islam. Van Doorn kemudian mulai mendalami Islam untuk membuat film Fitna tersebut, tapi Van Dorn akhirnya terinspirasi oleh pesan Islam dan mengaku sebagai Muslim tak lama kemudian. [islampos/worldbulletin]


»»  yang lain bede'...